Menuai Berkah Melukis Tubuh

Standar

ekonomi
Tabloid Prioritas Edisi 34 – Tahun I | 3 – 9 September 2012
Menuai Berkah Melukis Tubuh

Bermula dari keisengan menggambar tubuh sendiri. Dari bisnis lukis tubuh puluhan juta per bulan bisa diraup.

menuai berkah lewat bodypainting

Body painting pada anak di Jakarta, Kamis (30/8).

Perempuan bertubuh mungil itu sigap membuka tas kosmetik. Tapi isi di dalam tas bukanlah aneka peralatan merias wajah. Justru didalam tas bisa ditemukan alat pelukis tubuh atau tatto temporer. Terdapat aneka pewarna, cotton bud, tusuk gigi, tisu basah, stiker, lem khusus untuk kulit (glue skin), juga pewarna alami dari Arab yakni henna.
Anastasia adalah pemilik tas itu. Dia nampak begitu terampil saat menggoreskan kuasnya di punggung tangan Mimi, bocah yang berusia delapan tahun. Tak sampai lima belas menit tuntas sudah pekerjaannya. Dengan sumringah, mimi menatap puas punggung tangannya yang sudah bergambar.

Bagi Anastasia, melukis dipunggung tangan atau kaki anak-anak kecil memberikan kesenangan yang tak ternilai. Ia mengaku puas melihat bola mata bocah-bocah yang dilukis tangan atau kakinya berpendar kegirangan. Itu sebabnya ia akhirnya memutuskan serius menekuni bisnis lukis tubuh, terutama tangan, kaki dan wajah untuk anak-anak.

Ini adalah tahun ke sepuluh Anastasia menjalankan bisnis lukis tubuh (body painting). Tahun 2002 pertama kali ia berkenalan dengan lukis tubuh. Anas, begitu perempuan berambut pendek sebahu ini biasa disapa, mengaku sangat menikmati perjalanan bisnisnya. Ia bahkan merasa seperti baru kemarin melangkah.
“Awalnya, saya tertarik melukis tubuh karena pacar saya adalah artis tatto. Saya belajar melukis dari dia. Tapi saya lebih tertarik membuat lukisan yang temporer,” ceritanya kepada Prioritas Rabu pekan lalu.

Iseng-iseng, Anas menjadikan tangan, kaki, lengan, atau bagian tubuh manapun yang bisa ia jangkau untuk dilukis sendiri. Melihat lukisan unik di tangan atau kaki Anas, teman-teman dikantornya tertarik dan minta dilukis. Dengan senang hati Anas melakukannya, bahkan tanpa dibayar.
“Rupanya banyak perempuan tertarik membuat lukisan di tangan atau kaki mereka, tapi tak ingin lukisan permanen,” bebernya lebih lanjut.
Saat itu Anas mulai melihat peluang, namun ia tak segera melangkah. Tapi dukungan pacar yang akhirnya menjadi suami membuatnya tergugah. Melalui milis sebuah majalah gaya hidup, Anas memberanikan diri melakukan promosi.
Ternyata ia mendapat tanggapan positif. Hampir setiap hari ada saja yang menghubunginya minta dilukis. Dari lukisan yang fun hingga lukisan henna yang serius untuk pernikahan pun dilakoninya. Dari situ pelanggannya bertambah.

Sistem promosi dari mulut ke mulut cukup efektif dan membuat bisnis Anas berkembang. “Saat itu belum banyak pelukis tubuh seperti saya. Banyak sekali order,” katanya. Saat ini pun peminat lukis tubuh temporer masih banyak. Apalagi orang tak lagi memandang negatif tubuh yang dilukis secara temporer. “Sebelumnya kebanyakan orang hanya tahunya tattoo. Padahal diluar negeri melukis bagian tubuh sudah menjadi kegiatan yang menyenangkan, bahkan anak-anak sangat suka,” ujarnya.

Anas mendapatkan pelanggan anak-anak saat diminta Sekolah Internasional Singapura di Jakarta menjadi salah satu pengisi stand bazaar dengan gratis. Maka berkerumunlah bocahbocah mungil mengantre minta dilukis. Sejak itu panggilan untuk mengisi acara ulang tahun anak dengan lukisan ditubuh mulai berdatangan.
Order tak hanya mengalir dari ulang tahun. Kepiawaian dan kesupelan Anas membuatnya dipercaya oleh sepuluh Event Organizer (EO) untuk menjadi pengisi stand untuk acaraacara yang mereka adakan.

Satu hal yang berkesan buat Anas adalah ketika ia diminta mengisi stand menyambut piala dunia di Gelora Bung Karno. Hanya sehari, tapi antrian sudah panjang dan mengular dari pelanggan yang ingin wajah atau badannya dilukis aneka bendera peserta piala dunia.
Bagi anak-anak yang menjadi favorit adalah melukis wajah dan melukis punggung tangan. Lukisan di wajah biasanya dibuat mirip topeng hewan seperti harimau, gajah, atau singa.
Sementara lukisan yang jadi favorit di punggung tangan adalah gambar princess, tinker bell dan pesawat. Lukisan berwarna glitter juga sangat disukai anak-anak. Warna-warni yang terang dan berpendar membuat anakanak menikmati gambar tersebut.
Anas mengaku tak pernah menetapkan harga yang terlalu mahal. “Standar saja lah. Biasanya saya meminta Rp 1 juta untuk maksimal 30 anak,” katanya.
Sepuluh tahun berkutat dengan seni melukis tubuh mendatangkan penghasilan lumayan. Sambil tertawa ia menyebut angka kisaran Rp 20 jutaan per bulan sebagai penghasilannya saat ini.
“Yang bikin senang buat saya karena saya tidak perlu kerja kantoran lagi. Bebas menentukan kapan saya akan bekerja, dan penghasilan yang saya dapatkan nilainya jauh lebih besar,” kata Anas dengan senyum lebarnya..

Endah Lismartini
4 1 74

what is your opinion? tell me please

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s